Pada bulan Juli lalu terjadi fenomena cukup menarik di tiga lembaga besar di Gunung Madu, yaitu KGM, Dana Pen¬siun, dan PT BMM. Apa itu? KGM memeroleh peng¬hargaan khusus dari Menkop-UKM, Dana Pensiun kini asetnya sudah mencapai Rp30 miliar lebih, dan PT BMM sudah memetik hasil dari kebun tebu dan kebun sawit.
Melihat hasil yang sudah dicapai, reputasi ketiganya sudah tidak diragukan lagi. Selain meningkatkan kesejahteraan karyawan, keti-ganya pun kini sudah bisa menjadi perahu yang nyaman bagi (calon) purnakaryawan. Karena itulah Tawon mewawancarai Ir.H. Guna-marwan, sosok yang perannya tidak bisa lepas dari ketiga lembaga itu. Didampingi Pak Rakim Sugiarto (staf Dana Pensiun dan PT BMM), sambil minum teh, ka¬mi berbincang-bincang di ruangan Pak Guna. Berikut petikannya:
Ba¬gaimana komentar Bapak terhadap KGM?
Yang pertama, saya ucapkan selamat ka¬rena sudah memperoleh penghargaan lagi dari Bapak Menteri Koperasi dan UKM. Ini merupa¬kan bentuk pengakuan dari pihak luar, khusus¬nya pemerintah, yang sekaligus menambah kepercayaan terhadap KGM.
Saya setuju kalau sekarang KGM care (peduli) terhadap dunia pendidikan, dan itu pula yang membuat KGM mendapat pengharga¬an khusus. Tapi saya juga berharap, KGM ju¬ga perlu memikirkan agar karyawannya juga di¬beri pendidikan.
Sebagai pembina, menurut Pak Guna, bagaimana KGM ke depan?
Saya melihat koperasi (KGM) punya flek¬sibilitas yang tinggi untuk menyesuaikan de¬ngan kebutuhan anggota. Koperasi jangan ha¬nya dilihat sebagai badan usaha. Koperasi ada¬lah sebuah gerakan. Jadi yang harus dilihat bu¬kan hanya SHU-nya, tetapi bagaimana as¬pek welfare (kesejahteraan) anggota. Ini bisa ber¬arti luas: bagaimana anggota bisa punya ru¬mah, punya tabungan, punya investasi untuk hari tua, anak-anak bisa sekolah, dan lain-lain. Se¬kali lagi, orientasi KGM punya hanya SHU.
Jadi, apa artinya penghargaan bagi KGM?
Menurut saya, bagaimana agar penghar¬gaan untuk KGM itu secara ekonomis juga ber¬manfaat untuk anggota. Penghargaan berarti kepercayaan, dan harus dimanfaatkan untuk me¬ning¬katkan kesejahteraan anggota. Itu yang penting.
Beralih ke Dana Pensiun, bagaimana per-kembangannya sekarang?
Aset Dana Pensiun sudah lebih dari Rp30 mi¬liar. Padahal, kalau dihitung-hitung, dana yang diiurkan peserta hanya Rp7,7 miliar (selebihnya merupakan iuran pemberi kerja/perusahaan, dan hasil pengembangan). Bagi peserta, ini merupakan keuntungan yang sangat besar.
Perkembangan tahun 2007 ini sangat meng¬¬gembirakan. Dari arahan investasi 7,5%, hingga semester I tahun 2007 ini kita sudah men¬¬capai 16,42%. Yang menarik, pada se-mes¬¬ter I ini, asetnya berkembang jadi Rp4,25 miliar. Padahal, modal awalnya (iuran pemberi kerja dan peserta) hanya Rp2,25 miliar. Ini arti-nya pengembangannya mencapai sekitar 54%.
Mengapa pengembangannya bisa begitu besar?
Hasil pengembangan dari Danareksa sangat menguntungkan. Investasi kita di Danareksa memang lebih besar dibandingkan dengan Deposito Berjangka. Tahun 2005 dan 2006 kita masih sangat konservatif, belum berani berinvestasi ke Danareksa secara signifikan, karena saat itu suku bunga deposito masih bagus.
Sementara dari tahun 2007 kami melihat sukubunga deposito menurun. Ini karena perkembangan kebijakan politik dan ekonomi semakin baik. Teorinya, kalau sukubunga turun maka obligasi biasanya naik. Karena tidak bisa langsung ke obligasi, kita masuk ke Reksadana.
Bukankah harga saham sangat fluktuatif?
Prinsip yang harus tetap kita pegang ada-lah kehati-hatian. Dana ini adalah dana hari tua, jadi harus dibuat seaman mungkin. Di sisi lain, kita harus dinamis, memahami perkembangan ekonomi untuk jadi acuan pengembangan dana pensiun agar bagus, tetapi tetap aman.
Soal Reksadana, kita sudah banyak belajar sejak tahun 2005. Jadi, kita harus semakin ta-hu bagaimana bermain saham. Memang sangat fluktuatif, kadang kita untungnya sangat besar, kadang sedikit. Tetapi secara kumulatif, hasilnya sangat besar dibandingkan dengan deposito berjangka, yang stabil tetapi kecil.
Apa yang dilakukan Dana Pensiun untuk mengantisipasi dinamika saham ini?
Karena Dana Pensiun sudah masuk ke pasar modal, maka perlu orang yang mengerti investasi. Sekadar gambaran, pengurus Dana Pensiun sekarang sudah menjadi profesi ter-sendiri, seperti halnya bankir. Karena itu peng-urus Dana Pensiun wajib mengikuti seminar dan kegiatan-kegiatan yang sudah ditentukan. Ada kredit poin yang harus dicapai.
Yang jelas, sekarang pengurus Dana Pen-siun terus mengamati perkembangan harga saham. Kita harus bisa membeli dan menjual saham pada saat yang tepat. Hasil yang kita capai tahun 2007 ini paling tidak sudah me-nunjukkan bahwa kita sudah bisa meman-faatkan peluang di Reksadana.
Masih terkait soal pensiun, bagaimana dengan PT BMM?
Begini, saya mau bicara filosofi dulu. Dana Pensiun kita adalah iuran pasti. Jadi, yang sudah pasti adalah iurannya. Saat pensiun, semuanya dibayarkan, setelah itu putus: pada-hal jumlah yang kita terima belum begitu material. Apa akibatnya? Karyawan yang pensiun bisa syok. Mungkin karena penghasilannya sedikit, silaturahmi dengan kawan-kawan kerja juga terputus.
Karena itulah kita harus memikirkan peng-hasilan yang akan kita peroleh setelah pensiun. Kita harus punya terobosan untuk mengatasi masalah ini. Kalau kita hanya mengandalkan uang dari Dana Pensiun, sangat sulit, karena fleksibilitas pengembangannya sangat ketat. Pilihannya adalah mendirikan perusahaan. Lahirlah PT Bumi Madu Mandiri.
Tujuan pendirian PT BMM yang pertama, menjadi wadah tempat berkumpul dan silaturahmi para pensiunan. Kita masih bisa berkumpul dengan kawan-kawan kerja. Yang kedua, dari wadah ini kita juga punya pengha-silan. Kita akan lebih nyaman kalau berkumpul, karena ada kepentingan yang sama. Ngobrol-nya juga lebih nyambung.
Bagaimana realisasinya?
Sekarang kita sudah punya kebun tebu dan kebun sawit. Kebun tebu kita sudah dipanen, yaitu areal 54 Gunungbatin Udik, Kota Negara, dan Kota Negara. Sementara sawit kita, insya Allah Agustus ini panen perdana, yaitu di Lebuh Dalam (dekat lahan eks PT ADP), luas tanaman sekitar 344 ha. Kita juga punya lahan di Bojong Dewa, luas tanaman sekarang 109 ha. Di Blambangan Umpu juga ada tanaman sawit sekitar 649 ha. Luas tanaman masih akan terus bertambah, karena sekarang dalam proses penggarapan lahan. Blambangan Umpu misalnya, tahun ini kita rencanakan mencapai 1.200 Ha (dari total lahan 1.600 Ha).
Mengapa harus tebu dengan sawit?
Kalau sawit harus menunggu sekitar 5 tahun, sementara tebu dalam setahun sudah bisa menghasilkan. Nah, hasil dari tebu inilah yang membantu operasional sawit, karena selama sawit belum panen, kita harus keluar biaya untuk perawatan.
Apakah sawit masih akan terus diperluas?
Selama masih ada lahan untuk sawit, BMM akan beli lagi.
Lalu pabriknya?
Kira merencanakan akan dirikan tahun 2008, bekerja sama dengan pihak lain. Rencananya, BMM akan share saham sekitar 25% (sekitar Rp20 miliar). Kapasitas pabriknya sekitar 20 ton/jam.
Kalau tidak ada aral melintang, tahun 2009 PT BMM sudah bisa membagikan deviden Rp500.000/saham. Kami mohon doa dari para karyawan, semoga PT BMM terus maju dan berkembang, amin.
Showing posts with label kesejahteraan. Show all posts
Showing posts with label kesejahteraan. Show all posts
Wednesday, August 1, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)