Tuesday, June 5, 2007

Petani Tebu Mandiri Semakin Bergairah


TULANGBAWANG (KORAN_ONLINE): Suatu saat nanti, truk-truk dari delapan penjuru angin akan membawa tebu petani peserta kemitraan ke Gunung Madu. Petani enjoy, Gunung Madu untung, perekonomian masyarakat sekitar juga menggeliat. Masyarakat benar-benar merasa ikut memiliki PT Gunung Madu Plantations karena sudah ikut merasakan manisnya gula.
Itulah impian yang sering diucapkan Ir.H. Gunamarwan saat menjabat Ketua Tim Kemitraan Tebu Rakyat PT GMP (yang kini dikelola Koperasi Gunung Madu dan PT Bumi Madu Mandiri).
Meski kini tidak menjabat lagi sebagai ketua tim, tetapi impian itu masih sering dilontarkan Pak Guna. Namanya impian (atau harapan) pasti ideal. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Apalagi kalau disertai dengan kerja keras dan niat yang tulus.
Kondisi saat ini pun cukup mendukung, karena adanya program akselerasi produksi tebu untuk mencapai swasembada gula. Untuk mendukung program pemerintah yang sudah menjadi komitmen bersama kalangan pabrik gula di Indonesia (setiap tahun dievaluasi), tak ada pilihan lain bagi Gunung Madu kecuali mengembangkan program kemitraan.
Untuk meningkatkan produksi gula dengan menambah luas areal (ekstensifikasi) di Lampung tentulah bukan hal mudah. Sementara mengandalkan intensifikasi pada lahan yang sudah ada, juga tidak akan menambah produksi secara signifikan. Karena itu, melibatkan masyarakat menjadi petani tebu merupakan pilihan yang tepat.
Bak gayung bersambaut, masyarakat dan pemerintah pun mendukung. Setelah Pemda Lampung Tengah, kini giliran Pemda Tulangbawang yang ”jatuh cinta” dengan kemitraan tebu. Sebagai realisasinya, Pemkab Tulangbawang melalui Bupati Abdurrahman Sarbini menjalin kerjasama kemitraan tebu dengan PT GMP, yang dituangkan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU).
Penandatanganan MoU oleh Bupati Tulangbawang Abdurrahman Sarbini dan General Manager PT GMP H.M. Jimmy Mahshun disaksikan kurang lebih 800 petani dan para pejabat setempat. Acara ini berlangsung di Gedung Musyawarah Mufakat, 23 Mei lalu.
Penandatanganan MoU tersebut disaksikan pimpinan DPRD, Sekkab Tulangbawang, Kadep SBF PT GMP Ir. H. Gunamarwan. Hadir pula pada acara itu Manager PT Bumi Madu Mandiri Ir.H. Afif Manaf, Waka Satpam Prayitno, dan PR Officer PT GMP Ir. Hapris Jawodo. Kapolres Tulangbawang AKBP Suyono, Komandan Lanud Astra Ksetra Letkol (Pom) Sentot Adhi Kurnianto.
Kerjasama Pemkab Tulangbawang dan PT Gunung Madu Plantations tersebut merupakan langkah maju program kemitraan perusahaan perkebunan tebu dan pabrik gula tertua di Lampung itu. Lahan yang disiapkan Bupati Abdurrahman Sarbini untuk kerjasama kemitraan ini seluas 2.000 hektar
Bupati Abdurrahman Sarbini mengatakan kerja sama ini demi mensejahterakan masyarakat. “Dengan adanya pola kemitraan ini, kita harapkan dapat meningkatkan pendapatan petani di bidang perkebunan,” katanya.
Kerja sama dengan PT Gunung Madu Pelantations ini, kata Mance – sapaan akrab Pak Bupati – bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sector perkebunan. “Selama ini petani bergantung dari hasil panen ubikayu (singkong). Padahal, harga singkong selalu dikendalikan pengusaha pabrik,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Ir. Husni Thamrin menerangakan, lahan yang digunakan untuk kemitraan tebu ini pada tahap awal seluas dua ribu hektar. Antara lain terdapat di Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Tulangbawang Udik.
Pihaknya sangat mendukung program ini. Dengan sistem kemitraan tebu ini penghasilan petani akan bertambah 100 sampai 200 persen. Ia memperkirakan pendapatan yang diperoleh petani bisa mencapai Rp6-7 juta per hektare dalam satu tahun.
Sementara itu, di sela-sela penandatanganan MoU juga digelar penyuluhan massal yang dihadiri sekitar 800-an orang petani. Materi yang disampaikan antara lain program revitalisasi perkebunan dan pola kemitraan. Selanjutnya, pemasaran karet dan mutu bahan olahan karet (bokar) serta pupuk bersubsidi.
Dalam penyuluhan tersebut, Manager PT Bumi Madu Mandiri Ir.H. Afif Manaf menjelaskan kemitraan yang akan dikembangkan di Tulangbawang adalah sistem kemitraan mandiri, karena arealnya terpisah dengan Gunung Madu (sedangkan yang melekat sistem Kerja Sama Operasional/KSO, yang dikelola oleh Koperasi Gunung Madu).
Dalam kerja sama ini, petani diberi kesempatan untuk mengelola sendiri kebunnya. Tetapi untuk aspek permodalan, bibit, dan saprodi, disediakan oleh Gunung Madu. Syaratnya, jarak areal yang diajukan masyarakat dengan pabrik Gunung Madu tidak lebih dari 50 km dan lahannya cocok untuk ditanami tebu.
Makin Diminati
Kemitraan tebu memang makin diminati. Ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah petani pemilik lahan yang mendaftar ikut kemitraan ke PT Gunung Madu Plantations.
Musim tanam tahun 2005 luas lahan kemitraan yang dikelola PT BMM sekitar 651,11 hektar, sedangkan padamusim tanam 2006 bertambah menjadi 791,08 hektar.
Areal kemitraan tersebut tersebar di Kampung Gunungbatin Udik 144,39 hektar, Menggala (235,01 ha), Gunungbatin Udik areal 54 (30,35 ha), Kampung Karta (58,06 ha), Tanjungratu (43,75 ha), Bandar Putih (57,08 ha), Kota Napal (88,78 ha), dan Kota Negara (133,66 ha).
Petani yang kini menggandrungi tebu selain Pak Raden dari Kampung Karta, Tulangbawang, ada Pak Raden lain yang berasal dari Kampung Gunungbatin Udik, Lampung Tengah. Pak Raden yang satu ini malah sudah lebih dulu ikut kemitraan di PT GMP. Pada musim tebang dan giling tahun 2006 lelaki yang bertubuh kecil ini sudah menikmati hasil panennya.
“Alhamdulillah, menjelang lebaran tahun lalu, saya mendapat uang Rp2 juta sebagai pembayaran awal hasil panen tebu,” kata Pak Raden dari Gunungbatin Udik.
Ayah dari 17 anak itu mengaku memiliki lahan 2 hektar yang diikutkan program kemitraan pola KSO (kerjasama operasional). “Setelah saya hitung-hitung hasilnya jauh lebih besar disbanding menanam singkong,” ujar lelaki berusia 80 tahun itu.
Pengakuan serupa diungkapkan Tarmizi gelar Pangeran Raja Tinga, warga Dusun Gunugnsari, Kampung Gunungbatin Udik. Ia memiliki lahan seluas 5 hektar bekas kebun singkong, sejak tahun 2005 diikutkan kemitraan pola KSO.
Ia tertarik ikut kemitraan setelah menyaksikan keberhasilan rekan-rekannya yang lebih dulu ikut kemitraan.. Dia melihat sendiri hasilnya yang jauh lebih menguntungkan ketimbang menanam singkong.
“Saya lihat sendiri teman-teman yang ikut kemitraan tebu di PT GMP bisa mengantongi keuntungan Rp4 juta – Rp5 juta per hektar per tahun. Sedangkan hasil dari singkong paling tinggi Rp3 juta per hektar per tahun,” kata Tarmizi gelar Pangeran Raja Tiga.
Selain Pak Raden dan Tarmizi masih banyak petani pemilik lahan yang kini bersiap-siap ikut kemitraan di PT Gunung Madu Plantations. “Keuntungannya sangat jelas dan hasilnya bersih,” ungkap Tarmizi.(amd)

Agar Tebu Lega “Bernafas” dan Bisa “Senam”


TULANGBAWANG (KORAN_ONLINE): Mobil Estrada merah berkabin dua itu merayap pelan menelusuri lorong-lorong kebun tebu. Sesekali berhenti di ujung lorong. Dari mobil itu keluar sosok lelaki tinggi berkulit sawo matang. Ia berjalan memasuki rimbunan rumpun tebu menemui seorang pekerja yang sedang memotong daun-daun kering dari batang tebu. Lelaki itu memberi petunjuk yang langsung diikuti si pekerja.

Dia adalah Basaradin, pemilik kebun tebu seluas 58,6 hektar di Kampung Karta, Kecamatan Tulangbawang Udik, Tulangbawang. Setiap hari Ia memeriksa langsung perkebunan yang ia kelola sendiri itu.

Basaradin, yang memiliki sapaan akrab Pak Raden, sejak tahun 2005 sudah bertekad menjadi petani tebu. Profesi sebagai juragan singkong di Kabupaten Tulangbawang ia tinggalkan. “Saya tidak mau tanggung-tanggung menekuni tebu,” katanya ketika ditemui Tawon di kebunnya suatu siang pertengahan Mei lalu.

Siang itu dia ditemani keponakannya Mahyuddin membawa Tawon dan Waka Satpam Prayitno berkeliling areal kebun tebu miliknya di Kampung Karta, Tulangbawang Udik. Dengan bersemangat Pak Raden menunjukkan tanaman tebu yang tumbuh subur di kebunnya.

Di kebun Pak Raden ini terdapat tiga varietas tebu unggul dari PT Gunung Madu Plantations, yakni GM-19, SS-57, dan F5. Tanaman tebu di sini tampak sangat terawat, daun kering tak terlihat menggelantung di batang. Dia mengupah pekerja khusus untuk mengkletek daun kering. “Saya borongkan Rp500 ribu per hektar,” katanya.

Tebu sudah menjadi pilihan bagi Basaradin. Ia sudah mantap untuk saat ini tidak akan membiarkan lahannya terlantar. Tiap jengkal lahan miliknya kini Ia ditanami tebu. Tebu sudah menjadi primadona bagi Pak Raden. Dia sudah membayangkan keuntungan yang bakal diraupnya di akhir tebang giling nanti.

Memiliki kebun tebu yang luas dan modal kuat tidak membuat Pak Raden berpangku tangan saja menunggu hasil panen. Setiap hari lelaki yang hanya lulusan sekolah dasar ini, memeriksa kebun tebunya. Tanah, batang tebu, dan daun kering ia teliti dengan seksama. Ia tidak segan menegur para pekerja jika ada yang salah mengkletek daun tebu yang kering. Tak jarang ia mengkletek sendiri daun tebu kering yang masih menggantung di batang.

Daun-daun tebu kering yang sudah dikletek oleh Pak Raden dibiarkan menutupi tanah di lorong-lorong antara barisan rumpun tebu dengan barisan rumpun yang lain. “Daun kering ini nanti bakal jadi humus yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah,” katanya menjelaskan.

Dia menanam tebu juga diatur sedemikian rupa, ada jarak yang membuat tiap rumpun tebu lega bernafas dan leluasa mendapatkan siraman sinar matahari. “Dengan cara ini batang tebu saya jadi sehat. Tiap batang bisa bebas “bersenam” dan mendapat sinar matahari yang cukup,” katanya dengan nada seorang ahli pertanian.

Hal itu tidak berlebihan bagi Pak Raden. Selain menemukan teknik baru setelah melakukan riset beberapa tahun, Ia juga mendapat bimbingan dari Manager PT Bumi Madu Mandiri Ir.H. Afif Manaf. Dia juga punya seorang asisten sarjana pertanian. Sang asisten dengan setia mendampinginya setiap hari dan memberi beberapa saran.

Pak Raden bukan petani biasa. Ia mengontrol kebun tebunya sambil mengendarai mobil Mitsubishi Estrada double kabin, kendaraan mahal yang sedang tren bagi kalangan penjelajah. Hal seperti itu tergolong langka di Lampung.

Pak Raden bukan petani berdasi, tetapi petani sejati yang sukses. Dan, batang tebu akan membawanya bertambah sukses. Ia memperkirakan akhir tahun ini bakal mendapat uang Rp3 miliar dari hasil panen tebunya.

Dia mengakui tebu memberinya lompatan penghasilan yang tinggi. Pada panen tebu tahun 2006 ia merasakan nikmatnya uang tebu. Ini pertama kali dia menerima uang hasil panen tebu. Padahal pada waktu itu dia tidak berniat menggiling tebu tanamannya.

“Itu adalah tanaman ujicoba saya tahun 2005. Bobotnya belum memuaskan walaupun sudah melebihi hasil tahun sebelumnya,” kata Pak Raden. Ia tidak bersedia menyebutkan berapa uang yang diperolehnya waktu itu. Yang jelas hasilnya jauh melebihi tanam singkong.

Lelaki asli Lampung dari Kampung Karta, Tulangbawang Udik itu sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai petani singkong sekaligus juragan singkong. Komoditas ini pula yang melambungkan namanya sebagai pedagang besar, yang menghubungkan petani dengan pabrik.

Bagi Pak Raden pendidikan SD sudah cukup asal mampu menekuni bidang yang digeluti dengan serius, maka sukses pun bisa diraih. Dia membuktikannya dengan keberhasilannya saat ini.

Kalaupun saat ini Pak Raden beralih dari singkong ke komoditas tebu, hal itu semata karena gejolak jiwanya yang tidak cepat puas. Tebu merupakan hal baru baginya, tetapi hal itu justru menjadi tantangan untuk ia tekuni.

Petani sukses dari Kampung Karta ini telah dikaruniai 7 putra dan putrid dari hasil perkawinannya dengan perempuan bernama Lamsiana. Putra sulungnya Suhendra, kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung (UBL). Anak keduanya diberi nama Putri, calon dokter yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.

Kemudian putra ketiga Sofyan, masih di bangku SMAN Dayamurni Tulangbawang, lalu Suryajaya, juga di SMAN Dayamurni. Anak kelima Mira, siswi SMP Karta, yang keenam Sugarman, SD, dan terakhir Resa masih duduk di bangku TK.(amd)

Dulu Juragan Singkong, Kini Petani Tebu


TULANGBAWANG (KORAN_ONLINE): Mulanya hanya iseng-iseng, lalu jatuh cinta. Begitulah pengalaman Basaradin berkenalan dengan tanaman tebu. Ketika masih menjadi juragan singkong, ia sekaligus pemilik armada angkutan truk yang sering dikontrak PT PSMI, PG Bunga Mayang, dan PT Sweet Indo Lampung untuk mengangkut tebu.

Saat itu ia sama sekali tidak tertarik untuk ikut membudidaya tanaman yang mengandung gula itu. Kini Ia menjadi boss tebu di Tulangbawang.

Namun, karena penasaran melihat perusahaan-perusahaan dari luar Lampung menanam investasi di bidang perkebunan tebu, lelaki yang sehari-hari disapa Pak Raden itu, diam-diam “mencuri” beberapa batang bibit tebu. Pak Raden menanam bibit tebu itu di kebunnya. Tanaman itu pun tumbuh subur.

Ketika tebu itu sudah mencapai usia panen, Pak Raden menebangnya seperti yang dilakukan di perusahaan-perusahaan perkebunan tebu yang ada di Lampung Tengah dan Tulangbawang. Saat itu dia tidak menebang untuk produksi, melainkan hanya ditimbang bobotnya per batang.

“Saya hanya menanam sedikit hanya untuk ujicoba,” kata Pak Raden ketika ditemui Tawon di kebun tebunya di Kampung Karta, Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang.

Uji coba menanam tebu itu dilakoninya sejak tahun 1996. Untuk itu lelaki berpostur tinggi langsing itu menyediakan lahan seluas kurang lebih seperempat hektar. Tata cara bertanam tebu yang diterapkan di beberapa perkebunan tebu di Lampung dia tiru. Begitu pula jadwal tanam dan tebang Pak Raden mengikuti jadwal di perusahaan-perusahaan di sekelilingnya.

Tetapi, ketika itu Pak Raden tidak membawa hasil panen tebunya ke pabrik gula, melainkan langsung ia buang dan sebagian ia jadikan bibit. “Kebun saya bongkar pasang setiap tahun,” katanya kepada Tawon.

Ketika ditanya alasannya, mantan juragan ubi kayu itu mengaku belum puas dengan hasil yang didapat dari tanamannya. Bobot per batang tebunya sangat rendah. Ia mencoba berbagai varietas dan bermacam pola tanam. Saking seringnya mencoba berbagai cara itu, ia hafal semua ragam menanam tebu di perusahaan-perusahaan perkebunan di Tulangbawang dan Way Kanan. Begitu pula dengan varietasnya.

Dari ujicoba yang dilakukannya bertahun-tahun itu, ia berhasil menemukan cara menanam tebu yang paling baik dan dengan produktivitas yang tinggi pada tahun 2005. Ia lalu mendaftarkan diri ikut kemitraan mandiri di PT Gunung Madu Plantations tahun 2006.

Dia menamakan teknik tanamnya itu dengan sebutan “bentuk kotak”. Dalam satu kotak itu tebu yang tumbuh akan membentuk rumpun yang jumlah batangnya mencapai 40 batang lebih.

Selain itu, dengan cara tanam Pak Raden ini, satu batang tebu bisa berbobot 3 kg-4 kg per batang dan jumlah ruasnya pun bisa mencapai 35.

Pak Raden sudah menghitung perkiraan hasil panen kebun tebunya paling rendah 150 ton per hektar. Jumlah ini jauh melampaui target produksi konvensional di PT Gunung Madu Plantations yang sekitar 80 ton perhektar. Dengan luas lahan 54,8 hektar Pak Raden optimis bisa mengantongi keuntungan Rp3 miliar pada panen tahun ini.

“Saya yakin hasil tanam tebu saya bisa mencapai 250 ton perhektar. Kalau 150 ton perkehtar itu bisa sambil tidur saja,” katanya penuh keyakinan.

Diikuti Petani

Bertani tebu di Lampung, khususnya Kabupaten Tulangbawang belum begitu diminati masyarakat. Padahal, keuntungan berkebun tanaman berbatang manis ini cukup menggiurkan.

“Kalau saja petani singkong di Tulangbawang beralih ke tanaman tebu, kehidupannya bakal lebih makmur,” ujar Basaradin.

Basaradin mulai bercocok tanam sejak tahun 2005. Sebelumnya, ia pun bertani singkong. Dan, ternyata hasil tebu lebih menguntungkan. Tanaman tebunya di kampong tersebut kini mencapai 54,8 hektar.

Karena keberhasilannya, sejumlah petani di Menggala pun mulai mengikuti jejaknya. Salah satunya Mahyuddin, yagn mulai tahun 2006 menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami tebu.

Saat ini, tebu milik Mahyuddin yang sudah berumur tujuh bulan mencapai 23,4 ha, sedangkan yagn sedang dalam proses penanaman mencapai 45 ha.

Menurut Mahyuddin, menanam tebu ternyata jauh lebih mudah dan menguntungkan. Sebab, dalam satu hektar bisa menghasilkan tebu 150-280 ton atau 20-22 ton gula. Harga gula di pasaran juga tidak pernah turun apalagi sudah dikontrak, sementara pajak langsung dibayar pabrik. Saat ini saja harga gula di pabrik mencapai Rp5.800/kg. “Sangat menguntungkan bagi petani jika mau bertaham tebu,” ujarnya.

Keberhasilan Basaradin bertani tebu harus diakui. Bahkan, hasil panen tebunya jauh melebihi produksi kebun tebu perusahaan. Namun, keberhasilan itu tidak datang begitu saja. Pola tanam dan bibit unggul merupakan prioritaqs yagn dipilih Basaradin.

Ada beberapa pola tanam dan beberapa varietas tebu yagn terus diuji coba untuk melihat bibit apa dan pola tanam bagaimana yang akan menghasilkan produksi tebu terbaik.

Dengan berbagai uji coba tiga varietas bibit tebu: F-5, GM-19, dan SS-57, serta tiga pola tanam – segi empat, lajur lurus dan memotong – kini hasilnya sudah bisa dibuktikan.

Produksi tebu yang sudah dipanen tahun lalu mencapai antara 150-280 ton/hectare yang menghasilkan 22 ton gula putih. Karena keberhasilannya, sejumlah perusahaan merasa penasaran dan sebagian melakukan survey ke lapangan seperti PTPN Surabaya sudah dua kali mengirim 30 karyawannya setiap kali melakuan penelitian di kebun tebu milik Basaradin.

Kemudian, kata Basaradin, PG Cinta Manis dari Palembang dan PT GMP juga sudah pernah melakuan penelitian di kebunnya. Sementara PT GPM (Gula Putih Mataram) sudah menelepon akan masuk dan melihat kebun Basaradin. “Bahkan ada, ada perusahaan tebu dari Gorontalo yang menelepon mau survey ke sini,” katanya.

Menurut dia, mulai tanam tahun 2005 sudah sekali panen dan hasilnya 280 ton tebu (22 ton gula putih) sudah dibuktikan, padahal perusahaan menargetkan 10 ton gula per hectare.

Petani sukses itu pun tak ragu-ragu menjelaskan kiat suksesnya. Dengan mobil Estrada merah, ia pun mengajak wartawan berkeliling melihat tanaman tebunya yang berumur 5-8 bulan.

Sesekali Basaradin berhenti sambil menunjuk tanaman tebu yang sudah mulai berumur yaitu antara 7-8 bulan, dan kemduian kembali melanjutkan perjalanan ke bagian kebun lainnya.(amd