Tuesday, July 31, 2007

Penyair Bumi Empat Lawang

Air keruh kembali keruh/ banjir sungai menjadi air mata/ gemuruh di hulu menyeret langkah/ menjadi mimpi yang menakutkan/mengikis buih menghanyutkan lumut. Menjelma pekik memilukan/ malam menjadi sangat kelam/ratusan hujan bersahutan/ meluapkan musibah banjir Galang..........
Itulah penggalan puisi berjudul "AIR KERUH KEMBALI KERUH" , yang dibaca SYAMSU INDRA USMAN dengan Hikmat di rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten EMPAT LAWANG.
Puisi ini ditulis untuk mengenang banjir bandang Sungai BETUNG, anak Sungai Musi, yang menghatam Desa GALANG tahun 1996, Banjir yang menerjang saat warga terlelap, pada dini hari itu menyapu habis perkampungan di tepian sungai serta menewaskan ratusan orang.
Melalui tulisan kami coba untuk menampilkan sosok atau bisa dikatakan ASET Kabupaten EMPAT LAWANG, hamper semua warga Empat lawang belum begitu mengenal siapa Syamsu Indra Usman ini, beliau adalah sosok PENYAIR yang dimiliki daerah Lintang Empat Lawang, atau kalau mau jujur mungkin hanya satu satunya Penyair yang dimiliki daerah Lintang.
Dilahirkan di Lahat pada Tanggal 12 Oktober 1956, dengan segala kekurangan yang dia miliki, tidak menjadikan dia patah semangat dalam meniti kehidupan ini, tinggal di desa Lubuk Puding ditengah perkampungan lama dekat hulu sungai Musi, menempati sebuah rumah panggung kayu.
Untuk menuju kerumahnya, kita harus melewati 80 meter jembatan gantung yang dibuat pada zaman Belanda.
Seperti kebanyakan warga dusun Lubuk Puding, Penyair ini menjalani hidup sebagai petani desa,tiap pagi dan petang dia mandi di sungai Musi dan disiang hari dia bergulat mengurus Enam Hektar kebon kopi dan tiga hektar Kebon kemiri, dari hasil kebon inilah dia menafkahi anak istrinya.
Terlahir dengan kekurangan FISIK, memiliki tubuh yang mungil , hanya 100 Cm, tidak menjadikan Syamsu Indra mudah berputus asa.
Banyak sudah Karya tangan yang dihasilkan, dan boleh dikatakan Syamsu Indra Usman termasuk penyair yang produktif, sudah sekitar 4.500 puisi dibuatnya.
Sebagian puisi diterbitkan dalam tujuh antologi, antara lain Tembang Duka(1994), Sesembah Air Mata (2003) dan Mencari Ayat Ayat-MU (2003), disamping itu masih ada 109 Karya Tulis yang sudah dijilidkan dalam bundelan, ada 96 bundel kumpulan Puisi, 5 Novel dan 1 kumpulan Cerpen.
Disamping itu juga Indra tekun mendokumentasikan budaya EMPAT LAWANG, yaitu kawasan Pemukiman di tepian Sungai, dan bahkan sempat menulis dua naskah lagu lagu daerah, menyusun satu kumpulan sastra tutur local yang di sebut REJUNG, kumpulan Petatah petitih, resep masakan daerah, adat istiadat, serta Kamus Bahasa Lintang Empat Lawang, yang memuat sekitar 5.000 entri kata.
SYAMSU INDRA USMAN, adalah Tokoh Budayawan yang harus kita jaga dan pelihara serta kita Syiarkan ke penjuru Dunia karya karya nya......, dizaman saat ini sangatlah sulit untuk dapat kita menemukan Syamsu syamsu yang lain di BUMI LINTANG EMPAT LAWANG, dan beliau menjadi salah satu Tokoh Rujukan Budaya Empat Lawang.
Atas pengabdian dan Prestasinya pada Tahun 2004 Gubernur Sumatra Selatan Menganugrahkan penghargaan SENI SASTRA.
Semoga asset daerah kita yang satu ini, menjadi perhatian serius dari para Pejabat terutama Bupati Empat Lawang, dalam mengangkat Seni Budaya Daerah Lintang Empat Lawang.
Disamping itu juga keikut sertaan Masyarakat Lintang Empat Lawang, dalam melestarikan Budaya Daerah kita, jangan sampai budaya Lintang hanya tinggal nama...........
Semoga tulisan ini jadi cerminan kita dalam membangun daerah EMPAT LAWANG, untuk mengangkat Seni Budaya Lintang sebagai Aset Wisata Nasional.

Wednesday, July 18, 2007

Lima Juta Balita Indonesia Alami Gizi Buruk

JAMBI (KORAN_ONLINE): Sekitar lima juta anak usia di bawah lima tahun (Balita) di Indonesia mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat berbagai masalah seperti kemiskinan, kekurangan pangan, maupun makanan tambahan.

Angka tertinggi Balita yang menderita gizi buruk itu terdapat di kawasan timur Indonesia, selain karena tiga persoalan menonjol yakni kemiskinan, kekurangan pangan dan makanan tambahan, hal itu juga diperparah oleh minimnya pemberian air susu ibu (ASI), kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Kaman Nainggolan di Jambi, Rabu.

Nainggolan mengungkapkan hal itu menjawab pertanyaan wartawan setelah membuka rapat koordinasi ketahanan pangan dan pencanangan kader pangan PKK Provinsi Jambi, Rabu.

Pemerintah mencemaskan lima juta Balita mengalami gizi buruk itu jika tidak ditangani serius, Indonesia ke depan akan dihadapkan sebuah dilema kehilangan generasi muda yang berkualitas.

Sebab itu gerakan mengaktifkan Posyandu di Indonesia kini kembali dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan efektifitas gizi keluarga, dan menggalakan peran kelembagaan untuk mewujudkan ketahanan pangan di luar beras.

Misalnya mengembangkan pertanian tanaman pangan jenis umbi-umbian dan sayuran. Aneka makanan tambahan di luar beras mampu meningkatkan gizi yang baik seperti keladi dan ubi jalar mengandung protein tinggi, dan buah-buahan.

Jepang hingga kini telah menetapkan 20 jenis makanan tambahan non beras terutama jenis umbian dan sayuran, seperti ubi jalar yang selama ini diimpor dari Indonesia dijadikan makanan "soba".

Sementara Indonesia hingga kini masih bergantung pada beras akibatnya ketahanan pangan lemah, dan gizi buruk melanda Balita terus bertambah.

Padahal beras yang mengandung karbohidrat tinggi jika dikonsumsi manusia berlebihan akan menimbulkan penyakit diabetes, ujar Nainggolan.

Desa Mandiri

Sementara itu, Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, menjelaskan, daerahnya telah memantapkan ketahanan pangan melalui program Desa Mandiri Pangan di 20 desa.

Selain itu sedang mempersiapkan penanganan daerah-daerah rawan pangan dan memperkuat modal usaha ekonomi masyarakat hingga pada 2006 telah digulirkan senilai Rp15 miliar.

Untuk memperkuat ketahanan pangan di Jambi telah menetapkan dua kabupaten sebagai sentra sayur mayur yaitu Kabupaten Kerinci dan Kota Jambi, serta membina industri rumah tangga dan penanganan kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk bagi Balita.

Sementara pertanian tanaman pangan fokus pada peningkatan produksi kedelai dan jagung dengan target hingga pada 2010 mencapai 20.000 ha, padi 209.673 ha, dan kentang 7.500 hektar.(*)

5 Orok Ditemukan di Rumah Tukang Urut

MEDAN (KORAN_ONLINE): Sebanyak lima orok Rabu pagi ditemukan di rumah salah seorang tukang urut di Medan yang tinggal di Jalan Pasar IV, Gg Mufakat, Lingk XXVII Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Sumut.

Beradasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, salah satu dari kelima orok bayi itu mulanya ditemukan oleh salah seorang warga, Rismawati, (45) yang bertetangga dengan tukang urut (pijat), Msk, (52).

Sekitar pukul 18.30 Rismawati bermaksud ingin mencari ayam buras miliknya karena belum masuk kekandang rumahnya meski waktu telah senja.

Ia menjumpai seekor ayamnya berada dibagian belakang rumah Msk yang sedang mengais-ngais tanah.

Dari tanah yang dikais itu terlihat kantongan plastik berwarna hitam dan setelah ditarik dari tanah oleh Rismawati ternyata kantongan plastik itu berisi orok.

Kejadian inipun langsung dilaporkan ke kepala lingkungan setempat kemudian diteruskan ke kantor polisi terdekat, Polsekta Medan Labuhan, kata Budi, salah seorang warga setempat.

Polisi yang turun kelokasi kejadian pada keesokan harinya atau Rabu pagi langsung menutup lokasi rumah Msk dan melakukan penggalian yang kemudian menemukan tiga orok dari lubang tanah itu.

Kapolsekta Medan Labuhan, AKP Nakman Pulungan, di lokasi kejadian mengatakan, satu orok lagi ditemukan di dalam rumah Msk sedangkan orok yang ditemukan warga telah dibawa ke RS Pirngadi.

Msk bersama anaknya Syw, (27) telah lari dan saat ini masih dalam pengejaran. Dari keterangan warga mereka membawa satu orok bayi yang diperkirakan berusia tujuh bulan, ujarnya.(*)